OBAT HERBAL – Pengobatan menggunakan obat herbal telah menjadi budaya sekaligus pengobatan tradisional secara turun-temurun bagi bangsa Indonesia. Obat herbal memiliki sejarah yang panjang sebagai pengobatan dan juga bagian dari budaya Indonesia.

Pada zaman dahulu, masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan obat herbal dibandingkan dengan obat konvensional. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ekonomi serta keterbatasan akses mendapatkan obat yang layak.

Meski telah memasuki zaman modern, obat herbal masih menjadi pilihan utama bagi sebagian orang. Tanaman yang mudah ditemukan, harga terjangkau dan kemudahan mengolah menjadi beberapa alasan mengapa obat herbal masih digemari.

Obat herbal telah menjadi bagian dari sejarah, budaya dan identitas tradisional bagi bangsa Indonesia.

Pengertian Obat Herbal Indonesia

Dilansir dari World Health Organization, obat herbal merupakan bagian dari pengobatan tradisional dengan sejarah yang panjang. Pengobatan tradisional tersusun dari keterampilan, pengetahuan, keyakinan, praktik berdasar pada teori, dan pengalaman budaya yang berbeda-beda.

Obat herbal memiliki beragam kegunaan. Seperti untuk menjaga kesehatan, diagnosis, pencegahan, dan membantu pengobatan penyakit fisik maupun mental. Karena dari bahan alami, obat herbal cenderung bekerja lebih lambat dibandingkan obat konvensional.

Di bawah ini akan dijelaskan sejarah obat herbal di Indonesia dan bagaimana perkembangannya dari masa ke masa.

Sejarah Obat Herbal di Indonesia

Jamu banyak ditemukan dari kawasan Jawa Tengah. Ini dibuktikan dengan beragam buku berisi resep atau komposisi ramuan jamu untuk merawat raja dan keturunan bangsawan lainnya. Di zaman tersebut, raja yang sakit membuka peluang kerajaan lain untuk perang demi memperebutkan wilayah.

Namun, kerajaan-kerajaan lain di seluruh penjuru Indonesia juga memiliki komposisi ramuan jamu mereka berdasarkan pada kebutuhan dan ketersediaan bahan di daerah tersebut. Jadi, jamu memang digunakan sebagai obat dan juga menjaga kesehatan masyarakat sejak zaman dahulu.

Ramuan jamu ini ada untuk merawat gejala yang ada dalam tubuh dan resepnya diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Jamu tradisional biasanya disajikan dalam bentuk cair yang bisa langsung diminum. Namun, sejak tahun 1960-an, mulai muncul depot jamu yang mengemas dalam bentuk pil, serbuk, dan kapsul.

Sejarah Obat Herbal Indonesia di Zaman Kerajaan

Menurut Myrna Adianti dalam UNAIR NEWS, Indonesia sudah lama mengenal obat herbal yang disebut dengan jamu. Diperkirakan jamu sudah ada sejak 1300 tahun yang lalu sejak kejayaan Kerajaan Mataram. Ini dibuktikan dengan pahatan di Candi Borobudur.

Dalam pahatan tersebut ditunjukkan kegiatan masyarakat pada zaman itu menggunakan mortal untuk menumbuk bahan jamu. Jadi, jamu di masa Kerajaan Mataram dibuat dengan cara menumbuk bahan menjadi satu menggunakan mortar atau alat tumbuk.

Sejarah Obat Herbal Indonesia di Zaman Penjajahan

Jamu masih terus berkembang dan digunakan sebagai obat herbal hingga zaman penjajahan. Menurut tirto.com, Carl Ludwig Blume selaku pejabat Dinas Kesehatan Masyarakat Hindia Belanda, menulis surat untuk Residen Cirebon mengenai penggunaan ramuan tumbuh-tumbuhan untuk pengobatan diare oleh penduduk pribumi. Surat tersebut dikirim tanggal 8 Februari 1825.

Chloranthus officinalis atau krastoelang adalah jenis tumbuhan liar yang dimaksud. Jenis tumbuhan ini mudah ditemukan di kawasan pulau Jawa. Blume menjelaskan secara rinci bagaimana tumbuhan tersebut diolah menjadi obat oleh rakyat pribumi.

Kemudian, di akhir abad 19, para dokter dari Eropa mulai tertarik dengan penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat. Blume yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor juga melakukan penelitian pada jenis tumbuhan asli Nusantara lainnya beserta kegunaannya. Ini dilakukan dengan tujuan kepentingan kedokteran dan komersial.

Sebelum penelitian Blume dilakukan, di tahun 1816, seorang dokter berkebangsaan Amerika bernama Thomas Horsfield membuat artikel kesehatan yang berjudul ‘Short Account of the Medicinal Plants of Jawa’ dalam jurnal Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen.

Dalam artikelnya, Horsfield menjelaskan bahwa jenis tanaman tersebut memang bisa digunakan sebagai obat. Namun, bagi Horsfield, krastoelang lebih banyak digunakan sebagai obat penyakit kelamin dan obat demam dalam jangka waktu tertentu.

Sejarah Obat Herbal Indonesia: Keuntungan Obat Herbal Indonesia untuk Bangsa Eropa

Keragaman hayati yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa bangsa Eropa datang menjajah. Selain memiliki beragam jenis tanaman untuk konsumsi, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang dapat digunakan sebagai obat.

Seiring berjalannya waktu, banyak penyakit baru bermunculan. Hal ini ternyata tidak sejalan dengan perkembangan obat-obatan milik bangsa Eropa. Dengan beberapa artikel tanaman yang dapat berfungsi obat itulah yang menjadi sebab datangnya bangsa Eropa ke Indonesia untuk mempelajari tanaman herbal Tanah Air.

Tujuan Penelitian Tanaman Obat Herbal Indonesia

Dalam sejarahnya, dikatakan bahwa bangsa Eropa meneliti tanaman obat-obatan sebagai bahan obat herbal dalam beberapa alasan.

Pertama, bangsa Eropa memerlukan pembaharuan penelitian mengenai ekstrak tumbuhan lain yang dapat menjadi obat penyakit-penyakit baru. Penyakit ini masih belum ditemukan obatnya. Maka dari itu, melihat adanya kemungkinan tanaman Indonesia dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit, bangsa Eropa melakukan penelitian di Indonesia.

Kedua, untuk keuntungan bangsa Eropa itu sendiri. Pada dasarnya, penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa adalah untuk mencari keuntungan ekonomi. Penyelidikan kerangka sejarah alam atau natural history yang dilakukan tersebut juga memiliki tujuan mengumpulkan informasi tanaman yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomis bagi bangsa Eropa.

Meski begitu, ilmu pengetahuan baru mengenai tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat herbal juga berguna untuk warga pribumi. Yakni bertambahnya pengetahuan rakyat Indonesia mengenai daftar tanaman yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Buku Tanaman Obat Herbal Indonesia

Dilansir dari tirto.id, seorang keturunan Indonesia-Belanda bernama J. Kloppenburg-Versteegh menerbitkan buku yang memberi informasi seputar jenis-jenis tanaman yang ada di Hindia – nama lain Indonesia pada saat itu, lengkap dengan manfaat dan khasiatnya bagi kesehatan manusia di tahun 1907.

Buku itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa berjudul Bab toetoewoehan ing tanah Indija miwah dajanipoen kangge djampi di tahun 1911. Lalu, di tahun 1916 buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Melayu yang berjudul Boekoe obat-obat dan Boekoe djampi.

Penggunaan banyak bahasa ini memudahkan masyarakat pribumi atau masyarakat Indonesia untuk ikut menambah informasi mengenai tanaman di sekitar mereka yang dapat dijadikan sebagai bahan baku obat. Tidak hanya menyembuhkan, tapi juga dapat menjaga kesehatan.

Perkembangan Obat Herbal di Abad ke-20

Diketahui bahwa dokter asal Eropa sudah kehilangan minat dan ketertarikan terhadap tanaman obat Indonesia sejak memasuki awal abad ke-20. Menurut tirto.id, ada dua alasan mengapa dokter Eropa mengalami kehilangan minat pada obat herbal Indonesia.

Pertama, adanya paradigma bakteriologi. Paradigma ini adalah kerangka berpikir dalam ilmu kedokteran dengan meyakini bahwa adanya penyakit merupakan akibat dari patogen yang spesifik. Adanya paradigma ini juga membuat praktik terapeutik lebih berfokus pada hal tersebut.

Lebih lanjut, adanya paradigma bakteriologi juga menjadi penyebab munculnya laboratorium. Hal ini yang membuat penelitian yang berkaitan dengan kedokteran saat ini lebih banyak dilakukan dalam laboratorium dibandingkan di alam terbuka.

Kedua, paradigma yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan dominasi sains yang dibawa oleh orang-orang Eropa. Kemudian, penyakit-penyakit telah memiliki definisi atau penjelasan yang lebih spesifik serta pengobatan yang dapat dilakukan dengan jelas dan tepat sasaran.

Hal ini yang membuat ilmu pengetahuan lain di luar ilmu kedokteran modern memiliki stigma terbelakang. Tidak adanya eksperimen yang akurat juga membuat tingkat keakuratan dari ilmu pengetahuan mengenai obat herbal menjadi lebih rendah.

Dengan begitu, obat herbal menjadi bentuk keterbelakangan masyarakat pribumi dibandingkan dengan masyarakat Eropa. Apabila pribumi ingin dikatakan maju secara pengetahuan dan informasi, maka pribumi diharuskan mengonsumi obat-obatan hasil pengetahuan orang Eropa.

Sejarah Obat Herbal Indonesia: Perkembangannya Kini

Di tahun 2020, obat herbal masih memiliki pasar tersendiri. Menurut BPOM RI, kebutuhan akan obat herbal dalam bentuk jamu semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap menjaga imunitas tubuh dalam masa pandemi COVID-19.

Dengan demikian, BPOM RI menilai bahwa hal tersebut dapat menjadi peluang pengembangan obat herbal dalam bentuk jamu di Indonesia. Namun, perkembangan tersebut juga harus memenuhi kriteria mutu, keamanan, iklan, dan label.

Dari data yang dikumpulkan oleh BPOM RI, diterbitkan izin edar untuk 178 obat tradisional, 149 suplemen kesehatan lokal, dan 3 fitofarmaka dari bulan Januari hingga Juli 2020. Obat herbal yang telah memiliki izin edar tersebut diklaim berkhasiat menjaga daya tahan tubuh selama pandemi COVID-19.

Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap obat herbal Indonesia masih sangat tinggi. Penggunaan obat herbal merupakan salah satu bentuk menjaga kesehatan tubuh, terlebih memasuki wabah virus COVID-19 ini.

Tidak hanya menggunakan obat-obatan konvensional atau obat medis, masyarakat masih percaya pada khasiat obat herbal untuk membantu menjaga dan memelihara kesehatan tubuh. Selain itu, obat herbal masih banyak diminati karena mudah ditemukan, memiliki harga yang terjangkau dan memiliki khasiat yang tidak kalah dari obat konvensional.

Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai obat herbal dan alasan penggunaannya, klik tautan berikut.

Jenis-Jenis Obat Herbal

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, memasuki tahun 1960-an, bentuk dari obat herbal telah berevolusi menjadi beberapa varian. Antara lain:

Ramuan

Jenis ini biasanya dikonsumsi dengan diseduh terlebih dahulu. Gunakan air panas atau air suam kuku untuk menyeduh ramuan hingga ekstrak keluar seutuhnya. Bisa juga ditambahkan dengan gula pasir, madu, ataupun gula batu sebagai pemanis.

Bentuk ramuan ini memudahkan para konsumen menyeduh sendiri obat herbal dimana saja dan kapan saja, sesuai dengan selera masing-masing konsumen.

Sirup

Sama dengan ramuan, sirup herbal dapat diseduh dengan air hangat sebelum dikonsumsi. Atau, bisa juga dengan meminum sirup secara langsung dengan takaran tertentu. Sirup herbal biasanya memiliki rasa yang lebih manis sehingga dapat diminum langsung.

Sirup obat herbal juga terkadang diberi penambah rasa untuk menghilangkan aroma yang mengganggu atau untuk menyamarkan rasa pahit. Sehingga, obat herbal dapat dikonsumsi oleh siapa saja dengan rasa yang tidak kalah enak dari sirup pada umumnya.

Teh

Teh herbal bisa dikemas dalam dua bentuk. Pertama, pengemasan dengan kantong teh sehingga ampas tidak akan ikut terminum. Kedua, pengemasan tanpa kantong atau diseduh seperti ramuan biasa pada umumnya. Untuk bentuk kedua, ada baiknya teh disaring terlebih dulu sebelum diminum.

Salep

Biasanya, obat herbal dengan bentuk salep digunakan sebagai obat luar. Artinya, obat tersebut hanya boleh digunakan pada tubuh bagian luar dan tidak boleh dikonsumsi untuk tubuh bagian dalam.

Obat salep cenderung lebih mudah digunakan. Yakni dengan cara mengoleskan salep ke bagian tubuh yang menderita sakit untuk meredakan dan menghilangkan rasa sakit.

Madu

Dalam bentuk madu ini, ekstrak tanaman herbal dikemas dengan tambahan madu asli untuk memberi rasa yang nikmat saat dikonsumsi namun tidak menghilangkan khasiat alami dari tanaman tersebut. Pengemasan dengan madu juga dapat memperpanjang masa ketahanan obat herbal, sehingga dapat disimpan dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.

Minyak Esensial

Obat herbal jenis ini dapat dikonsumsi dengan dua cara. Pertama dengan menggosok minyak esensial ke bagian tubuh yang sakit. Kedua, dengan menggunakan humidifier atau dengan bantuan uap air. Minyak esensial biasanya digunakan untuk bagian luar tubuh dengan digosok atau untuk bagian dalam tubuh dengan cara dihirup.

Minyak esensial umumnya diberi tambahan wewangian agar tidak memberi wangi yang terlalu menyengat dan tidak mengganggu kegiatan saat digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

Tablet Bubuk

Jenis yang terakhis yakni tablet bubuk. Tanaman herbal biasanya akan dihancurkan atau dihaluskan hingga menjadi serpihan kecil dan dimasukkan dalam tablet. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mengonsumsi obat tanpa perlu menyeduh terlebih dahulu.

Bentuk ini hampir sama dengan obat konvensional yang kita temui di apotek. Sehingga perlu diperhatikan dengan seksama komposisi obat. Tablet bubuk juga memudahkan konsumen untuk menyimpan dan mengonsumsi obat herbal dimana saja dan kapan saja.

Teh dan Madu Uhat Bajakah sebagai Obat Herbal Indonesia

Di tengah banyaknya pilihan obat herbal berkhasiat, Uhat Bajakah hadir memberi dua varian produk obat herbal dengan bermacam kegunaan. Yakni Teh dan Madu dari akar kayu tanaman Bajakah asal Kalimantan Selatan.

Akar dan kayu tanaman Bajakah diekstrak dan kemudian diolah dalam bentuk teh dan madu agar mudah dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, pemilihan bentuk teh dan madu ini juga memberi stigma bahwa mengonsumsi obat herbal juga dapat dinikmati seperti minuman biasa dengan rasa yang enak.

Dengan bentuk teh dan madu, Uhat Bajakah mempermudah masyarakat Indonesia untuk tetap sehat dengan mengonsumsi obat herbal. Pemilihan tanaman Bajakah juga berdasarkan pada khasiat tanaman tersebut.

Produk Uhat Bajakah merupakan yang pertama dan satu-satunya yang mengantongi sertifikat laboratorium. Juga, dengan uji klinis dilengkapi dengan hasil analisis dari LIPI Indonesia. Jadi, produk Uhat Bajakah sudah sangat terpercaya dan direkomendasikan oleh dokter dan pakar kesehatan untuk menjaga dan memelihara kesehata tubuh.

Tanaman Bajakah dipercaya dapat menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya. Contohnya kanker, tumor, tekanan darah tinggi, stroke, liver dan asma. Produk dari Uhat Bajakah dapat dikirim ke seluruh pelosok Indonesia dan sampai ke konsumen dengan aman.

Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp di nomor 0821-1616-4170. Dengan pembelian dalam jumlah tertentu, Anda bisa mendapat diskon yang menguntungkan dan gratis produk yang tentunya tidak kalah menguntungkan!

Untuk melihat dan memesan produk dari Uhat Bajakah, klik tautan berikut.

Konsultasi Gratis Uhat Bajakah

Selain itu, konsumen juga dapat menikmati layanan konsultasi mengenai kesehatan dan produk Uhat Bajakah dengan gratis. Anda bisa langsung menuju ke alamat Jl. T. Surapati No. 76. Melayu, Teweh Tengah, Barito Utara, Kalimantan Tengah dalam jam kerja Senin hingga Sabtu, dari pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam.

Atau bisa juga melalui WhatsApp di nomor 0821-1616-4170 dan melalui email di admin@uhatbajakah.com.