Jamu adalah jenis obat herbal yang telah lama digunakan dari satu generasi ke generasi lainnya sejak zaman dahulu kala. Seiring perkembangan zaman, jamu sebagai obat tradisional Indonesia berevolusi mengikuti masa menjadi jamu modern. BPOM RI selaku badan pengawas makanan dan obat-obatan memiliki kriteria khusus demi menghindari penyebaran jamu yang tidak layak konsumsi.

Bentuk jamu modern juga sangat bermacam-macam. Kemasan yang digunakan juga sangat beragam dan menarik perhatian para calon konsumen. Jamu tidak lagi menjadi obat herbal menakutkan dengan rasa pahit, namun berubah menjadi minuman menyegarkan untuk semua kalangan.

Banyak juga café yang menawarkan menu jamu tradisional dengan kemasan unik dan lebih segar namun tidak mengenyampingkan manfaat serta khasiat dari bahan baku jamu tersebut.

Pengertian Jamu

Menurut BPOM RI, jamu masih termasuk dalam jenis obat tradisional yang memiliki pengertian sebagai bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang telah difungsikan sebagai obat secara turun-temurun.

Hal ini juga selaras dengan pengertian jamu menurut Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010. Dimana juga disebutkan bahwa jamu dapat diterapkan dan digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dalam sistem kehidupan masyarakat.

Disadur dari Jamu IBOE, kata ‘jamu’ berasal dari bahasa Jawa kuno ‘jampi’ atau ‘usodo’ yang memiliki pengertian penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan, maupun doa-doa dan aji-ajian. Di abad 15 hingga 16 Masehi, kata usodo jarang digunakan. Di sisi lain, kata jampi mulai banyak digunakan oleh kalangan keraton. Hingga pada akhirnya, jamu mulai banyak digunakan oleh ‘dukun’ dan tabib di zaman tersebut.

Jamu dikenal sebagai obat tradisional yang resep dan penggunaannya telah dilakukan secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya. Jamu sebagai obat tradisional berjaya hingga awal abad ke-20. Dimana salah satu obat herbal ini digunakan untuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh serta mengurangi gejala penyakit.

Kemudian dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, jamu sebagai obat herbal semakin tersingkir keberadaannya. Ilmu diluar ilmu kedokteran modern dianggap terbelakang dan tidak terbukti kebenaran dan kesahihannya.

Hal ini juga dikarenakan efektifitas obat herbal yang belum dibuktikan dengan uji laboratorium yang baik dan benar. Sehingga, banyak masyarakat yang mulai skeptis dengan manfaat dan khasiat dari jamu sebagai obat herbal.

Bukti Jamu sebagai Obat Tradisional Indonesia

Ada beberapa bukti yang menjadi penguat jamu sebagai salah satu obat tradisional Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Pertama, dari ukiran yang ada pada Candi Borobudur. Salah satu candi terbesar di Indonesia tersebut menampilkan salah satu kegiatan masyarakat. Yakni kebiasaan membuat dan meminum jamu sebagai bentuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh.

Dengan adanya relief atau ukiran pada Candi Borobudur tersebut, diperkirakan budaya minum jamu sudah ada sejak periode kerajaan Hindu-Budha di tahun 772 M.

Kedua, penyebutan profesi ‘tukang meracik jamu’ yang disebut sebagai Acaraki pada prasasti Madhawapura. Prasasti tersebut merupakan peninggalan dari kerajaan Hindu-Majapahit.

Ketiga, penjelasan penggunaan jamu sebagai obat tradisional yang ditemukan di USADA lontar di Bali. Penjelasan tersebut ditulis dengan bahasa Jawa kuno. Adanya penceritaan dengan bahasa Jawa kuno ini menandai masuknya budaya menulis di Indonesia.

Bukti fisik berupa tulisan resep obat tradisional juga banyak ditemukan di buku-buku keraton Jawa Tengah. Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki jenis obat tradisional yang beragam, bergantung pada sumber daya alam dan kebutuhan yang ada.

Meski telah banyak dijelaskan dan diceritakan, ternyata penggunaan jamu masih sangat terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa ahli mengeluarkan buku dan artikel berisi jenis-jenis tanaman di Indonesia yang memiliki khasiat sebagai jamu sekaligus obat tradisional.

Manfaat Jamu sebagai Obat Tradisional Indonesia

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai obat tradisional asli Indonesia, jamu memiliki banyak manfaat dan khasiat baik untuk kesehatan manusia.

Sejatinya, obat herbal tidak dapat menyembuhkan suatu penyakit secara total. Hal ini dikarenakan sifat pemulihan dari obat tradisional yang bertahap dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan obat konvensional.

Meski dikatakan sebagai obat herbal, jamu tidak dapat dikonsumsi dalam dosis yang tidak wajar. Jamu juga memiliki dampak buruk bagi tubuh apabila dikonsumsi diluar batas wajar. Maka dari itu, perlu adanya pemantauan konsumsi jamu agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Manfaat jamu sebagai obat tradisional Indonesia ada dua. Pertama, jamu memiliki manfaat untuk merawat gejala penyakit yang ada dalam tubuh. Gejala ini berlaku dalam skala ringan atau untuk penyakit yang tidak memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Contohnya seperti penyakit flu, batuk, demam, atau perut kram akibat datang bulan.

Meskipun ada beberapa klaim dapat menyembuhkan, obat tradisional sejatinya membantu meringankan penyakit berbahaya di samping konsumsi obat konvensional.

Kedua, jamu dapat digunakan sebagai pemelihara kesehatan dan imunitas tubuh. Banyak tanaman herbal Indonesia yang memiliki khasiat sebagai peningkat imunitas tubuh. Imunitas yang baik dapat menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit. Terlebih di masa wabah seperti saat ini.

Ketiga, jamu sebagai obat tradisional asli Indonesia juga dapat difungsikan sebagai penghangat tubuh saat sedang sakit flu, batuk, ataupun demam. Dengan begitu, jamu membantu meringankan gejala penyakit yang ada pada tubuh.

Manfaat dari jamu sendiri sangat beragam, bergantung dari tanaman apa yang dijadikan sebagai bahan baku utama pembuatan jamu tersebut. Misalnya, cabe puyang yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah pertumbuhan sel kanker dan mengobati sakit gigi.

Jamu beras kencur yang memiliki manfaat untuk meredakan kembung, mual dan nyeri pada badan serta menambah nafsu makan. Tanaman kencur yang bermanfaat sebagai pelega perut kembung dan dapat menetralisir rasa pedas, dan lain sebagainya.

Jenis Obat Tradisional Menurut BPOM RI

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia atau BPOM RI telah membagi obat tradisional menjadi tiga jenis khusus yang dapat dikonsumsi masyarakat berdasar pada cara pembuatan, manfaat dan cara pembuktian khasiatnya. Antara lain:

1. Jamu

Seperti yang telah dijelaskan di atas, jamu sebagai obat tradisional Indonesia terbuat dari tumbuhan yang kemudian diproses menjadi serbuk seduhan, cairan langsung minum ataupun pil. Jamu umumnya dibuat berdasar pada resep leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Jika dulu membuat jamu terbatas pada TOGA atau tanaman obat keluarga, saat ini sudah banyak ditemukan jamu yang berbahan dasar tanaman diluar TOGA seiring meningkatnya informasi dan ilmu pengetahuan.

Menurut hellosehat.com, satu jenis jamu dapat tersusun dari campuran 5 hingga 10 macam tanaman atau lebih. Dalam pembuatannya, setiap bagian tanaman mulai dari akar, batang, kulit, buah, biji hingga daun dapat diproses menjadi jamu.

Jamu yang mudah ditemukan dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia salah satunya adalah kunyit asam. Jamu kunyit asam memiliki manfaat membantu meredakan rasa nyeri saat datang bulan. Hal ini dikarenakan zat kurkumin yang mampu mengurangi produksi hormone prostaglandin yang menyebabkan kejang otot di bagian rahim.

Obat tradisional jamu dikatakan tidak memerlukan pembuktian secara ilmiah ataupun uji klinis dalam laboratorium. Jamu dinyatakan aman dan berkhasiat apabila terbukti langsung pada manusia ketika dikonsumsi.

Jika dulu jamu banyak dikemas dalam bentuk cair dengan kemasan yang kurang menarik, sekarang ini masyarakat telah mengemas dan memproses jamu menjadi lebih menarik untuk dikonsumsi. Pendekatan ini sangat membantu dalam melestarikan jamu sebagai obat tradisional Indonesia di tengah gempuran minuman-minuman instan lainnya.

Pengemasan yang menarik juga membantu mengenalkan jamu sebagai obat tradisional Indonesia kepada generasi muda – bagaimana jamu dibuat, rasa dan khasiat yang tidak kalah dengan minuman kesehatan modern lainnya yang banyak beredar di pusat perbelanjaan.

2. Obat Herbal Terstandar

Jenis kedua yakni OHT atau obat herbal terstandar. OHT umunya tersusun dari sari bahan alam atau ekstrak yang berasal dari tanaman obat, sari binatang, ataupun mineral.

OHT dibuat dengan bantuan teknologi yang lebih maju dan telah memiliki standar khusus untuk membuat obat tradisional. Hal ini sangat berbeda dengan jamu yang prosesnya mayoritas direbus untuk mendapatkan sari atau ekstrak dari tanaman obat.

Dengan standar kualitas yang telah ditetapkan, produsen OHT dianjurkan memastikan bahan baku dan prosedur selama pembuatan OHT telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPOM RI. Selain itu, tenaga kerja dalam pembuatan OHT juga diharuskan mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik.

Berbeda dengan jamu, produk OHT harus melalui uji praklinis dalam laboratorium. Hal ini untuk menguji keamanan, efektivitas dan toksisitas dari produk  sebelum diperjualbelikan secara masif.

Produk obat tradisional jenis OHT dikatakan resmi apabila mencantumkan logo dan tulisan ‘OBAT HERBAL TERSTANDAR’ dengan lambang lingkaran berisi tiga pasang jari-jari daun. Logo dan tulisan ini ditempatkan di bagian atas kiri wadah, pembungkus, atau brosur produk.

Contoh dari produk obat herbal terstandar yakni Tolak Angin dan Antangin.

3. Fitofarmaka

Fitofarmaka menjadi jenis ketiga dari obat tradisional yang diakui kualitas dan efektivitasnya oleh BPOM RI. Yang satu ini adalah jenis obat tradisional yang tersusun dari sari bahan alam atau ekstrak tanaman, mineral ataupun sari binatang.

Yang membedakan fitofarmaka dengan OHT adalah fitofarmaka merupakan jenis obat bahan alam yang keamanan dan efektivitas produk sudah dapat disamaratakan dengan obat konvensional atau obat medis.

Dalam memproduksi fitofarmaka, diperlukan teknologi dan proses khusus sesuai dengan standar yang ditetapkan BPOM RI. Selain itu, produk fitofarmaka harus melewati satu tahap pengujian tambahan. Yaitu menjalani uji klinis langsung pada manusia untuk menjamin keamanan dan efektivitas produk setelah melalui uji praklinis.

Sama halnya dengan obat herbal terstandar, produk yang telah lolos rangkaian uji kualitas dari fitofarmaka harus mencantumkan logo dan tulisan ‘FITOFARMAKA’. Logo umumnya berbentuk lingkaran berisi jari-jari daun berbentuk bintang dan ditempatkan di bagian atas kiri wadah, pembungkus, atau brosur produk.

Contoh dari produk fitofarmaka antara lain Stimuno, Xgra, Tensigard dan Rheumaneer.

Dilansir dari Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, OHT atau fitofarmaka harus lulus parameter uji persyaratan keamanan dan mutu obat sesuai dengan BPOM No. 32 tahun 2019 tanggal 23 Oktober 2019 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Tradisional.

Parameter tersebut antara lain kadar air, organoleptik, cemaran mikroba (E.coli, Salmonella, Shigella, Clostridia), cemaran logam berat (Timbal, Merkuri, Arsen dan Kadmium), aflatoksin total, waktu hancur, keseragaman bobot, volume terpindahkan, dan kadar alkohol/pH bergantung pada sediaan.

Tips Memilih Obat Tradisional

Menurut Lembaran Edukasi Obat dan Pangan dari BPOM RI, masing-masing obat tradisional wajib melampirkan penandaan label yang benar. Antara lain:

– Nama Produk

– Nama dan Alamat dari Produsen atau Importir

– Nomor Pendaftaran atau Nomor Izin Edar BPOM RI

– Nomor Bets atau Kode Produksi

– Tanggal Kadaluarsa

– Netto

– Komposisi

– Peringatan atau Perhatian

– Cara Penyimpanan

– Kegunaan dan Cara Penggunaan dalam Bahasa Indonesia

Selanjutnya, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi untuk menjamin obat yang digunakan tersebut aman untuk dikonsumsi. Antara lain:

– Menghindari pemakaian obat tradisional bersamaan waktunya dengan obat kimia (dari resep dokter)

– Diharapkan hanya mengonsumsi produk yang telah memiliki nomor pendaftaran BPOM RI

– Periksa tanggal kadaluarsa produk yang tertera pada bungkus atau wada obat

– Apabila muncul efek samping yang cepat setelah mengonsumsi obat tradisional, hal tersebut menjadi indikasi adanya penambahan bahan kimia yang terlarang dalam obat

– Selalu perhatikan bagian informasi ‘peringatan’ atau ‘perhatian’ yang ada pada kemasan produk dan sesuaikan dengan kondisi kesehatan konsumen.

– Sesuaikan penggunaan obat tradisional dengan gejala penyakit yang sedang dialami. Sangat tidak dianjurkan mengonsumsi obat tradisional secara berlebihan karena dapat memberi dampak pada tubuh dalam jangka waktu dekat maupun jangka panjang.

Teh dan Madu Bajakah sebagai Pilihan Obat Tradisional Indonesia

Di tengah keberagaman obat tradisional, terutama jamu, Uhat Bajakah hadir dengan dua pilihan produk yang sama hebat khasiatnya. Yakni teh dan madu Uhat Bajakah. Sesuai dengan namanya, kedua produk tersebut dibuat dari ekstrak akar kayu tanaman Bajakah asal Kalimantan Selatan.

Teh dan madu Uhat Bajakah dapat membantu mengatasi penyakit kanker, liver, stroke, tumor, tekanan darah tinggi, kista, hingga keputihan. Selain itu, teh dan madu Uhat Bajakah dapat membantu menjaga dan memelihara kesehatan tubuh selama pandemi.

Sebagai jamu, produk Uhat Bajakah telah bersertifikat laboratorium dan dengan uji klinis dilengkapi hasil analisis dari LIPI Indonesia. Sehingga seluruh produk telah terjamin keamanan dan efektivitasnya bagi manusia.

Khasiat tanaman Bajakah sudah dikemas dengan bentuk modern, yakni dalam bentuk teh dan madu. Hal ini dilakukan agar khasiat tanaman Bajakah mudah dikonsumsi oleh siapa saja dan kapan saja. Selain itu, bentuk teh dan madu dapat memperpanjang masa ketahanan produk.

Untuk pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp di nomor 0821-1616-4170. Atau dapat juga mempelajari produk lebih lanjut pada tautan berikut.

Produk-produk Uhat Bajakah sangat aman dikonsumsi dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Juga, dapat dikirim ke seluruh pelosok wilayah di Indonesia dalam pengemasan yang aman hingga sampai tujuan.

Ingin konsultasi gratis? Bisa!

Anda dapat langsung mengunjungi Uhat Bajakah di Jl. T. Surapati No. 76. Melayu, Teweh Tengah, Barito Utara, Kalimantan Tengah di jam kerja Senin hingga Sabtu, pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam. Anda juga dapat melakukan konsultasi gratis seputar produk melalui email di admin@uhat bajakah.com.